9 mins read

11 Cara Deteksi Fraud Pengeluaran Perusahaan dan Solusinya

mekari expense deteksi fraud pengeluaran perusahaan featured image

Mekari Insight

  • Menurut ACFE 2024, banyak kasus fraud terjadi karena lemahnya kontrol internal, bukan semata-mata karena tindakan individu. 
  • Karena itu, pencegahan yang efektif membutuhkan sistem yang mampu mendeteksi dan menghentikan penyimpangan sejak awal. Semakin cepat fraud terdeteksi, semakin kecil kerugian yang ditimbulkan. 
  • Dengan kontrol otomatis dari Mekari Expense seperti validasi kebijakan, OCR kwitansi, dan audit trail digital, perusahaan dapat mengurangi ketergantungan pada pemeriksaan manual dan memperkuat pengawasan secara real-time.

Fraud pengeluaran perusahaan adalah ancaman nyata yang dapat menggerus keuangan bisnis tanpa disadari.

Menurut ACFE Occupational Fraud 2024, organisasi rata-rata kehilangan 5% dari pendapatan tahunannya akibat fraud, sementara 89% kasus melibatkan penyalahgunaan aset, termasuk manipulasi pengeluaran dan reimbursement. 

Yang menjadi tantangan, fraud umumnya baru terdeteksi setelah 12 bulan, sehingga kerugian terus bertambah. Karena itu, deteksi dini sangat penting. 

Dalam artikel ini, Mekari membahas 11 cara mendeteksi fraud pengeluaran perusahaan, mulai dari mengenali red flag hingga memanfaatkan teknologi spend management untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan secara real-time.

Apa itu fraud pengeluaran perusahaan?

Fraud pengeluaran perusahaan (expense fraud) adalah tindakan sengaja untuk mengklaim reimbursement atas biaya yang tidak nyata, dipalsukan, atau dilebih-lebihkan demi keuntungan pribadi. 

Berbeda dengan kesalahan administratif seperti typo atau salah kategori pengeluaran, fraud melibatkan unsur niat untuk menipu perusahaan.

Menurut ACFE, fraud pengeluaran umumnya terbagi menjadi empat kategori utama:

  • Pengeluaran fiktif, yaitu mengklaim biaya yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
  • Inflasi kwitansi, yaitu menaikkan nilai pengeluaran agar reimbursement yang diterima lebih besar.
  • Duplikasi klaim, yaitu mengajukan penggantian untuk pengeluaran yang sama lebih dari satu kali.
  • Pemalsuan dokumen, yaitu memalsukan atau memodifikasi kwitansi, invoice, atau dokumen pendukung lainnya.

Tabel ini menunjukkan beberapa bentuk fraud pengeluaran yang paling umum terjadi dan perlu menjadi fokus pengawasan perusahaan.

Jenis fraudDeskripsiTingkat risiko
Inflasi kwitansiKaryawan mengubah nominal kwitansi agar lebih besar dari nilai sebenarnyaTinggi
Duplikasi klaimExpense yang sama diajukan lebih dari satu kali pada periode berbedaTinggi
Pengeluaran fiktifMengklaim biaya untuk transaksi yang tidak pernah terjadiSangat tinggi
MisklasifikasiBiaya pribadi disamarkan sebagai pengeluaran bisnisSedang
Pemalsuan dokumenKwitansi atau invoice dipalsukan menggunakan software editingSangat tinggi
Vendor fiktifPembayaran dilakukan ke vendor yang tidak nyata untuk memindahkan dana perusahaanSangat tinggi

Baca Juga: Fraud Reimbursement: 14,5% Ancaman Penipuan di Tempat Kerja

Seberapa besar dampak fraud pengeluaran?

Fraud pengeluaran bukan sekadar kerugian kecil yang muncul sesekali. Data menunjukkan bahwa praktik ini dapat menggerus pendapatan perusahaan dalam jumlah yang signifikan dan sering kali berlangsung tanpa terdeteksi selama berbulan-bulan.

Dilansir dari ACFE Occupational Fraud 2024: 

  • Organisasi rata-rata kehilangan 5% dari pendapatan tahunan akibat fraud. Jika perusahaan memiliki revenue Rp100 miliar per tahun, potensi kerugian yang terjadi bisa mencapai Rp5 miliar.
  • Median kerugian per kasus fraud mencapai US$145.000 menurut ACFE 2024, meningkat 24% dibandingkan laporan tahun 2022.
  • Sebanyak 89% kasus fraud melibatkan penyalahgunaan aset, termasuk fraud pengeluaran dan reimbursement karyawan.
  • Fraud pengeluaran dapat terjadi pada bisnis dari berbagai ukuran. Sekitar 20% usaha kecil dengan kurang dari 100 karyawan dan 12% perusahaan besar pernah mengalami kasus ini.
  • Rata-rata fraud baru terdeteksi setelah 12 bulan. Semakin lama fraud tidak ditemukan, semakin besar kerugian yang terakumulasi.

Di luar kerugian finansial langsung, fraud juga dapat menimbulkan dampak tidak langsung seperti menurunnya kepercayaan tim, terganggunya produktivitas, serta rusaknya reputasi perusahaan di mata pemangku kepentingan.

Baca Juga: Expense Fraud Naik 14% Tiap Tahun, Ketahui Cara Mitigasinya

11 cara deteksi fraud pengeluaran perusahaan

Fraud pengeluaran jarang terjadi dalam bentuk yang mudah dikenali. Pelaku biasanya memanfaatkan celah proses, lemahnya pengawasan, atau keterbatasan sistem untuk menyamarkan aktivitas mereka. 

Karena itu, perusahaan perlu menerapkan beberapa metode deteksi fraud pengeluaran perusahaan secara bersamaan agar potensi fraud dapat ditemukan lebih cepat.

1. Audit kwitansi 100% secara berkala

audit kwitansi

Salah satu cara paling efektif mendeteksi fraud adalah memeriksa seluruh laporan pengeluaran, bukan hanya sebagian sampel. Menurut SAP Concur, review 100% expense report memberikan peluang lebih besar untuk menemukan transaksi mencurigakan yang sering lolos dari pemeriksaan acak.

Cara melakukannya:

  • Jadwalkan audit bulanan atau kuartalan.
  • Gunakan checklist pemeriksaan yang terstandarisasi.
  • Pastikan setiap klaim memiliki dokumen pendukung yang valid.

Red flag yang perlu dicari:

  • Kwitansi fotokopi atau hasil scan berulang.
  • Nominal yang tidak sesuai dengan jenis vendor.
  • Tanggal transaksi pada hari libur atau di luar jam kerja.
  • Dokumen pendukung yang tidak lengkap.

2. Lakukan three-way matching

Fraud sering terjadi saat proses pembayaran dilakukan tanpa verifikasi yang memadai. Three-way matching membantu memastikan bahwa purchase order, invoice, dan bukti penerimaan barang atau jasa benar-benar sesuai sebelum pembayaran diproses.

Cara melakukannya:

  • Cocokkan data pada PO, invoice, dan goods receipt.
  • Verifikasi jumlah, harga, dan deskripsi barang.
  • Tahan pembayaran jika terdapat perbedaan data.

Red flag yang perlu dicari:

  • Invoice dari vendor yang tidak terdaftar.
  • Nominal invoice berbeda dengan PO.
  • Tidak ada bukti penerimaan barang atau jasa.
  • Perubahan informasi vendor tanpa alasan yang jelas.

Baca Juga: Panduan Invoice Matching: Metode, Dokumen, Alur, Contoh Use Case Industri

3. Periksa pola duplikasi klaim

expense reimbursement

Duplikasi klaim merupakan salah satu jenis fraud yang paling sering lolos dalam proses manual. Tanpa sistem terpusat, tim finance akan kesulitan menemukan expense yang sebenarnya sudah pernah diajukan sebelumnya.

Cara melakukannya:

  • Bandingkan klaim berdasarkan tanggal, vendor, dan nominal.
  • Simpan seluruh data expense dalam satu sistem.
  • Lakukan pengecekan berkala terhadap transaksi serupa.

Red flag yang perlu dicari:

  • Expense yang sama diajukan dua kali.
  • Dua karyawan mengklaim struk yang sama.
  • Nominal identik pada periode berbeda.
  • Klaim dengan selisih nominal yang sangat kecil dalam waktu berdekatan.

4. Bandingkan pengeluaran dengan jadwal dan kalender kerja

Tidak semua pengeluaran yang terlihat valid benar-benar terkait aktivitas bisnis. Membandingkan klaim dengan jadwal kerja dapat membantu mengungkap transaksi yang tidak masuk akal.

Cara melakukannya:

  • Cocokkan tanggal expense dengan data absensi.
  • Verifikasi agenda meeting dan perjalanan dinas.
  • Integrasikan data HR dan sistem expense jika memungkinkan.

Red flag yang perlu dicari:

  • Klaim makan klien saat karyawan cuti.
  • Biaya hotel tanpa perjalanan dinas.
  • Pengeluaran pada hari libur tanpa penugasan resmi.
  • Struk restoran tanpa agenda bisnis yang relevan.

5. Analisis pola anomali pengeluaran

Fraud sering kali lebih mudah terlihat dalam pola dibandingkan transaksi individual. Analisis data memungkinkan perusahaan menemukan perilaku yang tidak biasa yang sulit dideteksi secara manual.

Cara melakukannya:

  • Pantau tren pengeluaran per karyawan dan departemen.
  • Bandingkan expense dengan anggaran dan limit kebijakan.
  • Gunakan dashboard atau laporan analitik secara berkala.

Red flag yang perlu dicari:

  • Klaim yang selalu mendekati batas maksimum.
  • Lonjakan pengeluaran mendadak.
  • Departemen dengan pengeluaran jauh di atas rata-rata.
  • Frekuensi klaim yang meningkat tanpa alasan bisnis yang jelas.

6. Verifikasi keaslian kwitansi dan invoice

Kemajuan teknologi membuat pemalsuan dokumen semakin mudah dilakukan. Bahkan, kwitansi yang dibuat menggunakan AI kini semakin sulit dibedakan dari dokumen asli sehingga verifikasi menjadi langkah yang tidak boleh dilewatkan.

Cara melakukannya:

  • Periksa NPWP atau identitas bisnis vendor.
  • Verifikasi alamat dan informasi vendor secara online.
  • Cocokkan format dokumen dengan standar vendor yang bersangkutan.

Red flag yang perlu dicari:

  • Font atau tata letak yang tidak konsisten.
  • Angka yang terlihat diedit.
  • Vendor tidak memiliki jejak bisnis yang jelas.
  • Kwitansi tulisan tangan tanpa cap atau identitas resmi.

7. Pisahkan fungsi dalam proses pengeluaran

Fraud lebih mudah terjadi ketika satu orang memiliki kendali penuh atas suatu transaksi. Karena itu, pemisahan tugas atau segregation of duties menjadi salah satu kontrol internal yang paling penting.

Cara melakukannya:

  • Pisahkan fungsi pengajuan, persetujuan, dan pembayaran.
  • Tetapkan level approval yang berbeda.
  • Lakukan review berkala terhadap hak akses pengguna.

Red flag yang perlu dicari:

  • Satu orang mengajukan sekaligus menyetujui expense.
  • Tidak ada proses review independen.
  • Hak akses sistem yang terlalu luas.
  • Perubahan data transaksi tanpa persetujuan pihak lain.

8. Aktifkan saluran pelaporan whistleblower

Banyak kasus fraud justru terungkap melalui laporan internal, bukan hasil audit. Karena itu, perusahaan perlu menyediakan saluran pelaporan yang aman dan mudah diakses oleh karyawan.

Cara melakukannya:

  • Sediakan hotline anonim.
  • Buat formulir pelaporan digital yang aman.
  • Lindungi identitas pelapor dari potensi pembalasan.

Red flag yang perlu dicari:

  • Keluhan berulang terkait individu atau tim tertentu.
  • Laporan mengenai pola expense yang tidak biasa.
  • Indikasi kolusi antara karyawan dan vendor.

9. Lakukan spot check tak terduga

Audit terjadwal dapat membuat pelaku fraud lebih mudah mempersiapkan diri. Sebaliknya, pemeriksaan mendadak memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi sebenarnya.

Cara melakukannya:

  • Pilih secara acak 10–20% expense report.
  • Lakukan verifikasi tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  • Konfirmasi transaksi langsung kepada atasan atau pihak terkait.

Red flag yang perlu dicari:

  • Dokumen pendukung yang tidak tersedia.
  • Penjelasan yang berubah-ubah saat diminta klarifikasi.
  • Ketidaksesuaian antara klaim dan aktivitas bisnis.

10. Terapkan kebijakan expense yang jelas dan tertulis

Proses deteksi fraud akan jauh lebih sulit jika perusahaan tidak memiliki aturan yang jelas. Kebijakan expense berfungsi sebagai acuan untuk menentukan apakah suatu pengeluaran masih wajar atau sudah menyimpang dari ketentuan.

Cara melakukannya:

  • Tentukan limit pengeluaran per kategori.
  • Jelaskan jenis expense yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan.
  • Cantumkan persyaratan dokumen dan sanksi pelanggaran.
  • Sesuaikan kebijakan secara berkala dengan kebutuhan bisnis.

Red flag yang perlu dicari:

  • Klaim yang melebihi batas kebijakan.
  • Pengeluaran pada kategori yang tidak diizinkan.
  • Dokumen yang tidak memenuhi persyaratan perusahaan.

11. Gunakan sistem spend management otomatis untuk deteksi real-time

Jika metode sebelumnya membantu menemukan fraud setelah transaksi terjadi, sistem spend management memungkinkan perusahaan mencegah fraud sebelum pembayaran diproses. Pendekatan ini lebih cepat, konsisten, dan skalabel dibandingkan pemeriksaan manual.

Cara melakukannya:

  • Terapkan validasi kebijakan secara otomatis.
  • Gunakan OCR untuk memverifikasi kwitansi.
  • Aktifkan deteksi duplikasi berbasis AI.
  • Terapkan workflow approval berlapis dan audit trail digital.

Red flag yang dapat dideteksi otomatis:

  • Klaim di luar batas kebijakan.
  • Expense duplikat.
  • Kwitansi yang terindikasi dimanipulasi.
  • Pola pengeluaran yang menyimpang dari kebiasaan normal.

Baca Juga: Fraud Detection System: Cara Kerja, Manfaat & Penerapannya

Bagaimana Mekari Expense mendeteksi dan mencegah fraud pengeluaran

Mekari Expense membantu perusahaan beralih dari deteksi fraud pengeluaran perusahaan yang reaktif menjadi pencegahan yang proaktif. 

Sebagai platform spend management, Mekari Expense menggantikan proses manual yang rentan kesalahan dengan kontrol otomatis dan pemeriksaan berbasis AI yang berjalan secara real-time.

Fitur yang membantu mendeteksi dan mencegah fraud meliputi:

  • Custom policy untuk otomatis menolak klaim yang melanggar kebijakan perusahaan.
  • Multi-level approval workflow untuk memastikan setiap pengajuan melalui persetujuan yang sesuai.
  • OCR technology untuk memverifikasi data dari kwitansi dan invoice secara otomatis.
  • Corporate card untuk mencatat transaksi langsung dari sumber pembayaran secara real-time.
  • Audit trail untuk merekam seluruh aktivitas pengajuan dan persetujuan secara transparan.
  • Budget allocation dan real-time monitoring untuk memantau pengeluaran dan mendeteksi anomali lebih cepat.

Selain itu, Fraud AI Checker secara otomatis menganalisis setiap transaksi dan memberikan risk score berdasarkan tiga jenis deteksi:

  • Unusual amount detection untuk menemukan nominal yang tidak wajar dibanding pola historis.
  • Unusual vendor detection untuk mengidentifikasi vendor yang mencurigakan atau tidak sesuai kategori transaksi.
  • Duplicate transaction detection untuk mendeteksi transaksi duplikat atau klaim yang sangat mirip.

Siap membangun sistem deteksi fraud pengeluaran perusahaan yang bekerja otomatis 24/7? Pelajari lebih lanjut bagaimana Mekari Expense membantu mengendalikan pengeluaran dan mengurangi risiko fraud.

FAQ

1. Apa perbedaan antara fraud pengeluaran dan kesalahan klaim biasa?

1. Apa perbedaan antara fraud pengeluaran dan kesalahan klaim biasa?

Fraud adalah tindakan disengaja untuk mendapatkan keuntungan finansial secara tidak jujur — karyawan tahu klaim mereka tidak valid tapi tetap mengajukannya. Kesalahan adalah ketidaksengajaan: typo nominal, salah kategori, atau kurang memahami kebijakan. Bedanya bisa berdampak besar: fraud memerlukan investigasi dan tindakan disipliner, sementara kesalahan cukup dikoreksi dan dijadikan bahan edukasi.

2. Seberapa umum fraud pengeluaran di perusahaan?

2. Seberapa umum fraud pengeluaran di perusahaan?

89% kasus occupational fraud melibatkan asset misappropriation termasuk expense fraud. 20% usaha kecil dan 12% perusahaan besar dilaporkan mengalami fraud pengeluaran. Artinya ini bukan isu langka, melainkan risiko yang perlu dikelola secara aktif oleh setiap perusahaan, terlepas dari ukurannya.

3. Bagaimana cara mendeteksi duplikasi klaim pengeluaran?

3. Bagaimana cara mendeteksi duplikasi klaim pengeluaran?

Secara manual, duplikasi bisa dicek dengan membandingkan semua expense report dalam satu periode — cari nominal, tanggal, dan vendor yang identik dari pengaju yang sama atau berbeda. Secara otomatis, sistem spend management dapat melakukan pengecekan ini secara real-time: setiap klaim baru dicocokkan dengan database klaim sebelumnya, dan duplikasi ditandai sebelum masuk ke approval.

4. Apa saja tanda bahaya (red flag) fraud pengeluaran yang paling umum?

4. Apa saja tanda bahaya (red flag) fraud pengeluaran yang paling umum?

Klaim yang selalu mendekati batas maksimum kebijakan, pengeluaran di hari libur, kwitansi dari vendor tidak terverifikasi, dan frekuensi klaim yang melonjak mendadak. Satu red flag saja belum tentu fraud, tapi kombinasi beberapa red flag adalah sinyal kuat untuk investigasi lebih lanjut.

5. Apakah kebijakan expense yang ketat sudah cukup untuk mencegah fraud?

5. Apakah kebijakan expense yang ketat sudah cukup untuk mencegah fraud?

Kebijakan tertulis adalah fondasi penting, tapi tidak cukup sendiri. Kebijakan hanya efektif jika ada mekanisme penegakan otomatis. Tanpa sistem yang mem-flag pelanggaran secara real-time, kebijakan rawan di-bypass secara sengaja maupun tidak. Solusi ideal adalah kombinasi: kebijakan yang jelas + sistem yang menegakkannya secara otomatis + audit berkala sebagai lapisan terakhir.

WhatsApp Icon WhatsApp sales